Puisi - Tangisan Tak Terdengar
TANGISAN TAK TERDENGAR
Mata yang sembab itu perlahan mulai terbuka ... dipaksa terbuka
Tanpa ada alasan ternyata pagi tadi ... seketika rindunya tumpah di ruang tengah.
Berhamburan pun tak lantas mengusang.
Tangisan yang tak terdengar itulah yang menjadikan matanya menyembap.
Kejenuhan kian merasuki kedua retinanya, sebab hujan selalu hilang kala dirindukan.
Kecewa mulai menyelinap pada genderang telinganya, karena desir angin kini tergantikan riuh bising mesin kendaraan.
Kenangan yang merenta masih tersimpan pada lembaran tanya
Masihkah ada rahim yang merindukan?
Adakah rumah yang menanti kedatangan?
Atau bahkan, mungkinkah ada hati yang menerima?
Bersama nada yang jenuh, pertanyaan-pertanyaan itu tetap gaduh bergemuruh di setiap hembus napasnya yang dahulu angkuh
Lembar demi lembar hari tak juga segera mengakhiri peri, dan sepasang mata yang mulai kehilangan seri tak juga berkedip menyusuri rindu yang rapi terkemasi.
Menangkup rapat imajinasi perihal renjana yang selalu menyakiti
Melahap sisa-sisa kemarau lalu bermimpi akan turun nya hujan
Di lingkaran fikirannya, deru waktu memerintahkan langkahnya agar segera melambat.
Seakan memberi peluang untuk ingatan mengumpulkan kenangan yang semestinya telah ia buang di keranjang usang
- LoVembers
Blog ini tidak memasang iklan. Jika Tuan dan Nona berkenan, bisa dukung blog ini dengan menraktir kopi. Terima kasih. ^_^
