Puisi - Rindu


PUISI RINDU


Kiranya, waktu kita tak pula jadi hakim adil
Mendaulat purba rinduku
Terekam pada lembaran akhir kalender usang yang mencantum hanya bulan-bulan ganjil

Letih sudah terbaring
Lelap mendengarkan dongeng tentang baju hangat yang kau pakai dengan terbalik
resah sudah mengalah
santun tertunduk dibius wangi parfume yang selalu membuntuti

Entah bila, atau mungkin nanti malam
rinduku akan menghampirimu lagi dengan bibir geletar
Membawa tanya bagaimana atau mengapa yang seringkali terkadang batal dia sujudkan.
Mengajarinya tertawa layaknya anak-anak angin yang bersenda gurau dengan helai rambutmu.
Supaya dia faham, risau tak perlu dipelihara, sebaiknya segenap permintaan cukup dilintaskan dalam doa.

Ada cerlang di matamu,
aku baca sebait kalimat penghantar di lembaran kertas yang ditulis pujangga piatu

Puisi-puisi beraroma basah tanah
Kata-kata yang bermuatan gundah
serta suara hening yang tertiup lamban daun-daun trembesi

Sejak malam itu. Kau akan sadar bahwasanya rindu tak ubahnya sepenggal dosa kecil yang akan dapat terampuni hanya dengan satu pertemuan
Langkah kepergian hanya cara diriku membuktikan bahwa bumi ini bulat.
Berjalan menjauh agar bisa menemukanmu lagi.



Blog ini tidak memasang iklan. Jika Tuan dan Nona berkenan, bisa dukung blog ini dengan menraktir kopi. Terima kasih. ^_^


Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url