Secoret Hujan



Sebatas coretan hujan:

Hujan yang jatuh kali ini kupaksa menemani kesendirianku untuk meresapi bait malam. Perlahan, rintiknya turut menawarkan lirik tembang kesunyian dan kedinginannya menggigilkan dinding hati. Heumh ... ada rindu membeku.

Syair sepi dari puisi kehampaan turut merinaikan basah rasa. Mengguyuri lorong-lorong kekosongan.
Lengkap sudah; kuyupku jiwa.


Dinda, meski dikelilingi ramai kawanan hujan, tetap saja di sini aku memeluk kesendirian. Di kedinginan hening aku mencoba raih bayangmu dari jauh, berharap dalam dekap bayangmu aku berselimut hangat.

Dengar, Dinda.
Lirih angin meniupkan aroma tubuhmu. Segera saja kuhirup sepenuh wangi semerbakmu sampai aku larut sedalam-dalamnya. Hanyut.

Di tengan keromantisan kita, ada gelegar gelora suara langit bersahutan, seolah menyanyikan tembang kenangan tentang kita. Kedipan kilat ikut tergoda nyanyian langit dan petir mulai bersenandung sambil menari.
Semesta mengalunkan nada-nada rindu


Azer.

Blog ini tidak memasang iklan. Jika Tuan dan Nona berkenan, bisa dukung blog ini dengan menraktir kopi. Terima kasih. ^_^


Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url

Kolom jeda ini untukmu menuliskan apa saja yang tertahan di hati dan pikiran, dan ingin ingin kamu lepaskan. Tumpahan rasa yang tertahan akan terbang lalu hilang.

Teks tidak akan tersimpan. Otomatis hilang saat tekan tombol lepaskan. 0/1200

Kalau terasa terlalu berat, ceritakan juga pada orang yang kamu percaya.