Bahlul: Dari Kebijaksanaan yang Menyamar Menjadi Ejekan Sehari-hari


Ada satu kata yang mengembara jauh dari asalnya, menyeberangi lautan bahasa, terdampar pergeseran makna, lalu kehilangan jubah mulianya. Kata itu adalah Bahlul. Kata serapan dari Bahasa Arab.

Kita tahu bahwa di Indonesia kata Bahlul ini bermakna negatif. Karena dalam penggunaannya, kata ini direduksi menjadi ejekan untuk orang bodoh atau gila.

Asal-usul Bahasa Kata Bahlul

Secara bahasa, kata Bahlul ini berasal dari bahasa Arab yakni buhlul (بُهْلُول) dan memiliki bentuk jamaknya berupa kata bahālīl (بَهالِيل) yang sebenarnya memiliki citra mulia dan makna positif yang merujuk pada makna : as-sayyid al-jami li shifat al-khair (Seorang pemimpin yang menyandang banyak sifat kebaikan). Namun dalam bahasa Indonesia, maknanya bergeser menjadi negatif—yakni bodoh atau gila—karena reduksi makna dan pengaruh budaya lisan.

Kata bahlul adalah contoh klasik dari semantic shiftperubahan makna akibat adaptasi lintas budaya.
Ini mirip dengan kata syahwat (yang berarti kehendak dalam bahasa Arab, tapi di Indonesia berarti nafsu seksual), atau fitnah (yang berarti ujian, tapi di Indonesia berarti tuduhan palsu).

Asal-usul Sejarah Kata Bahlul

Di tanah Arab ada satu Tokoh yang memiliki nama Wahab bin Amr as-Shairafi al-Kufi, dan lebih dikenal sebagai Bahlul al-Majnun atau Bahlul bin Amr. Ia hidup di masa Dinasti Abbasiyah, ketika Harun al-Rasyid berkuasa.

Dalam kitab klasik, Bahlul bin Amr merupakan seorang sufi zuhud dari Kufah, dikenal berpura-pura gila di masa Khalifah Harun al-Rasyid. Karena dengan cara itu ia bisa menasihati penguasa tanpa takut dihukum. Dia hidup sebagai sosok yang berpura-pura gila demi menyampaikan kebenaran yang tak sanggup diucapkan secara terang. Bahlul, di masa Harun al-Rasyid, adalah cermin paradoks: gila di mata dunia, bijak di mata Tuhan. Ia menertawakan kekuasaan, menyingkap kepalsuan, dan mengajarkan bahwa kebijaksanaan kadang harus menyamar agar bisa didengar.  

Namun ketika kata itu tiba di Indonesia, ia kehilangan lapisan maknanya. Yang tersisa hanyalah topeng “gila” yang dikenakan sang sufi. Maka Bahlul pun direduksi menjadi ejekan: bodoh, tolol, orang yang tak waras. Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatatnya demikian, dan masyarakat mengulanginya dalam candaan sehari-hari. Kebijaksanaan yang menyamar itu tak lagi dikenali; yang diingat hanyalah keganjilan.  

Inilah ironi bahasa: sebuah nama yang dulu mengandung cahaya kini dipakai untuk merendahkan. Pergeseran makna ini bukan sekadar perubahan kata, melainkan cermin bagaimana budaya memilih apa yang ingin diingat dan apa yang rela dilupakan.  

Bahlul, dalam sejarahnya, adalah pelajaran bahwa kegilaan bisa menjadi strategi, bahwa kebijaksanaan kadang harus bersembunyi di balik tawa. Tetapi di lidah kita, ia menjadi tanda kebodohan. Maka setiap kali kata itu terucap, kita sesungguhnya sedang mengulang kisah tentang makna yang hilang—tentang bijak yang disalahpahami, tentang cahaya yang tertutup kabut.  

____
 Semoga bermanfaat. 


Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url