Simfoni Takdir
Terkadang, bukan tentang siapa yang lebih dahulu menggenggamnya, dan bukan pula tentang siapa yang paling kuat mempertahankannya. Barangkali, sejak awal, takdir telah lebih dahulu menuliskan ke mana segala sesuatu akan pulang.
Kau boleh menyusun berlembar-lembar rencana. Kau boleh menulis berjilid-jilid kisah cinta dengan tinta harapan, lalu menghias setiap halamannya dengan doa dan angan yang paling indah. Kau boleh membayangkan sebuah akhir, menyiapkan sebuah rumah bagi harapan, bahkan meyakini bahwa dialah tokoh yang seharusnya tinggal di halaman terakhir.
Namun, ketika takdir membuka lembarannya sendiri, kita akan menyadari bahwa ada tulisan-tulisan yang tak mampu kita ubah. Sebab rencana manusia hanyalah catatan kecil di tepi cerita, sementara takdir adalah kitab kehidupan yang ditulis dengan hikmah yang terkadang belum sanggup kita pahami.
Kadang, bukan seseorang yang merebutnya darimu. Barangkali, memang namamu tidak pernah dituliskan bersamanya pada halaman akhirnya. Dan mungkin, yang membuat kita terluka bukan karena kehilangan seseorang, melainkan karena harus merelakan cerita yang telah terlalu lama kita bayangkan.
Tetapi jangan buru-buru menyebut takdir sebagai ketidakadilan.
Sebab tidak semua yang pergi adalah kehilangan. Tidak semua yang gagal dimiliki adalah kegagalan. Dan tidak semua pintu yang tertutup adalah akhir dari perjalanan. Ada kalanya, Allah menutup satu halaman yang kita cintai, agar kita berhenti membacanya berulang-ulang dan mulai membuka halaman lain yang ternyata menyimpan keindahan jauh lebih besar.
Takdir memang sering menulis dengan tinta yang tak kita kenal. Ia menghadirkan pertemuan yang tak direncanakan, perpisahan yang tak diinginkan, serta jalan-jalan berliku yang tak pernah masuk ke dalam peta harapan kita. Namun, justru dari sana kita belajar bahwa tidak semua keindahan harus sesuai dengan keinginan.
Maka, jika ada sesuatu yang belum menjadi milikmu, jangan terlalu lama menyalahkan keadaan. Jangan pula sibuk mencari siapa yang harus disalahkan karena merebut apa yang ingin kau genggam. Bisa jadi, tak ada yang merebutnya. Bisa jadi, ia hanya sedang berjalan menuju tempat yang memang telah ditetapkan untuknya.
Yang perlu kau pelajari adalah husnuzan—berbaik sangka kepada Allah dan kepada jalan hidup yang sedang kau tempuh.
Sebab mungkin hari ini kau melihat takdir sebagai luka. Namun suatu hari nanti, ketika jarak telah memberimu ketenangan dan waktu telah mengajarkanmu kebijaksanaan, kau akan menoleh ke belakang dan berkata:
"Oh... ternyata begini alasan Allah tidak memberikannya kepadaku."
Dan barangkali, di situlah kau akhirnya memahami bahwa takdir tidak selalu datang untuk memenuhi apa yang kita inginkan. Kadang, ia datang untuk menyelamatkan kita dari sesuatu yang terlalu kita inginkan.
Jadi, teruslah berjalan.
Jika satu cerita harus berakhir, biarkan ia selesai dengan damai. Jika satu nama harus pergi, lepaskan dengan doa. Jika satu harapan harus gugur, jangan biarkan seluruh hidupmu ikut runtuh bersamanya.
Sebab lukisan takdir belum selesai.
Dan yang membedakan indah atau tidaknya lukisan itu, bukan selalu tentang warna apa yang Allah pilihkan untukmu, melainkan tentang bagaimana kau memandang setiap goresannya dengan hati yang penuh husnuzan.
Karena pada akhirnya, kita hanyalah pembaca yang sedang menjalani cerita.
Sedangkan Allah adalah sebaik-baik Penulis takdir.
Blog ini tidak memasang iklan. Jika Tuan dan Nona berkenan, bisa dukung blog ini dengan menraktir kopi. Terima kasih. ^_^
